Selasa, Maret 19, 2019

Kader PMII Harus Bagaimana Menghadapi Era Industri 4.0 ????

        Menurut pendapat saya revolusi industri 4.0merupakan zaman di mana manusia mengalami kemudahan di berbagai aspek. Semua hal di lakukan cukup dengan klik tombol layar komputer dan di operasikan oleh mesin. Betapa mudahnya semua kegiatan bisa di lakukan sambil santai dan tak perlu mengeluarkan banyak tenaga otot. Manusia bagaikan para raja yang di layani oleh para robot, mesin, dan komputer.
Namun dari kemudahan-kemudahan yang di tawarkan oleh era revolusi 4.0, tentunya ada beberapa sisi negatif yang merugikan beberapa belah pihak, di antaranya:
Melemahnya Jiwa Sosial Pada Setiap Individu
Kenapa bisa demikian? Karena, kebanyakan orang berinteraksi dengan  sesamanya karena motif kebutuhan. Jika individu mampu melakukan banyak aktivitas(memenuhi berbagai kebutuhan secara individu) secara otomatis intensitas bersosialisasi dengan individu lain akan berkurang dan lahirlah manusia-manusia individualis dan berkurangnya jiwa sosial yamg di miliki setiap individu.
Terjadinya Kesenjangan Sosial Yang Ekstrim
Karena mustahil dalam waktu yang singkat bisa memeratakan SDM yang notabenya sudah berbeda jauh antara satu dengan lainnya. Sehingga antara individu yang SDM nya rendah dan tinngi pendapatan perkapitanya akan jauh berbeda.
Meningkatnya Jumlah Pengangguran
Zaman revolusi industri 4.0 segal sesuatu di kerjakan menggunakan mesin dan komputersehingga mereka yang gagap teknologi dan biasa melakukan segalahal menggunaka tenaga manual, secara tidak langsung mereka akan tergerus teknologi dan tergantikan oleh teknologi.
Meningkatnya Angka Kriminalitas
Nilai angka pengangguran sejajar dengan angka kriminalitas. Mesin pintar menggeser pekerjaan-pekerjaan yang di lakukan secara manual yang biasa di  lakukan oelh manusia-manusia yang memiliki SDM rendah.sehingga meningkatnya jumlah pengangguran, sedangkan para pengangguran juga perlu memnuhi kebutuhan sehari-harinya dan kebutuhan keluarganya. Seperti sandang, pangan, papan, dan pendidikan. Jika mereka tidak memiliki penghasilan dan keperluan semakin meningkat setiap hari. Maka, mereka akan terpaksa melakukan kecurangan-kecurangan demi menutupi kebutuhan-kebutuhannya. Mencopet, merampok misalnya.
Adanya ketergantungan pada teknologi pada jiwa setiap individu
Karena hampir semua pekerjaan di operasikan menggunakan mesin. Sehingga setiap jiwa seakan menyatu dengan mesin dan komputer. Dan jiwa-jiwa itu akan merasa asing jika komputer dan mesin-mesin tersebut tidak lagi berada di sisi mereka.
Merosotnya moral anak bangsa
Semakinnya majunya teknologi, semakin mudahnya informasi menjerambah ke penjuru dunia. Kemungkinan guru bisa di gantikan dengan guru online. Maka pengawasan guru/orang tua terhadap peserta didik/anak tidak bisa semaksimal jika pengawasan secara real.
Pembelajaran secara modern/guru melalui online seperti ruang guru/quiper school jelas tidak bisa menggantikan peran seorang guru. Memang bisa menyampaikan teorinya. Namun, nilai barokahnya/keteladananya terhadap sosok guru sulit bahkan tidak bisa di dapatkan dengan cara ini.
Sulitnya di bedakan antara informasi hoax dan fakta
Mudahnya mengakses informasi, jaadi semakin mudah pula seseorang ngepost berita atau informasi baik itu berita yang realiata maupun hanya sekedar hoax belaka. Sehingga sulit menyaring bagi mereka yang baru belajar.
Dari beberapa sisi negatif tersebut bukan berarti tidak bisa di tanggulangi. Menurut saya para kader PMII harus menguasai materi sekaligus prkatik mengenai revolusi industri 4.0. untuk mematangkan kader PMII seharusnya perlu ada pelatihan ketrampilan-ketrampilan yang perlu di kuasai diera revolusi 4.0.
Untuk out put yang bisa di berikan kader PMII untuk masyaraka adalah meningkatkan SDM masyarat, ada pun cara yang bisa di lakukan kader PMII untuk meningkatkan SDM masyarakat adalah:
Melakukan sosialisasi mengenai revolusi industri 4.0 itu sendiri.
Mengadakan pelatihan mengenai penggunaan teknologi bagi mereka yang gagap teknologi
Terjun langsung ke masyarakat , bisa dengan melakukan pendampingan sebagai advokad, jika mungkin ada dampak-dampak negatif yang di timbulkan oleh teknologi.
Mengdakan kegiatan yang mengimbangi dampak negatif dari revolusi industri 4.0 itu sendiri. Misalnya karena terjadinya revolusi industri 4.0 , masyarakat menjadi individu-individu yang individualis, maka kader PMII bisa mengadakan kegiatan yang mengharuskan individu satu dengan lainnya bekerja sama. Misalnya mengadakan kegiatann gotong royong bersih desa.

Penulis:Sahabati Mila

Selasa, April 17, 2018

Peringatan Isro' Mi'roj dan Harlah PMII ke-58 ala Komisariat IAI Ngawi














(17/04/18)
       Isra’ Mi’raj di kenal oleh umat islam sebagai perjalanan semalam Nabi Muhammad SAW yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menjalankan salat lima waktu dalam sehari semalam. Dalam dunia perkampusan bisa di umpamakan isro’ mi’roj itu ibarat ujian skripsi, malaikat jibril sebagai pembimbing, Allah SWT sebagai rektor, dan sholat 5 waktu sebagai ijazah, dengan perumpamaan tersebut perlu di ketahui bahwa untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan harus ada perjuangan yang di tempuh dengan semangat totalitas, terlebih bagi orang-orang yang menyebut dirinya sebagai warga pergerakan harus rela berkorban dan berjuang dengan sepenuh hati guna mencapai apa yang di cita-citakan selama ini.
    Masih dalam kehangatan hari besar islam itu, pengurus komisariat PMII IAI Ngawi mengadakan peringatan isro’ mi’roj sekaligus harlah PMII ke 58, karena kedua acara tersebut merupakan momen besar untuk sahabat PMII seluruh Indonesia yang bertepatan pada hari itu juga, acara yang terlaksanakan di auditorium kampus IAI itu di partisipasi oleh kurang lebih 50 undangan dari BEM se-ngawi, seluruh komisariat PMII kabupaten Ngawi, Pengurus Cabang PMII Ngawi, dan juga beberapa dosen IAI Ngawi yang salah satunya ialah MABINKOM komisariat IAI Ngawi.
    Acara tersebut turut serta di meriahkan oleh grup sholawat gabungan dari beberapa anggota komisariat se-Ngawi dan juga di adakan proses pemotongan tumpeng untuk meperingati harlah PMII yang ke-58, “Anggota PMII harus punya militansi yang kuat untuk menghadang segala musuh yang berbasis islam fundamentalisme dan liberalisme keagamaan”, tukas bapak Abdilah Halim sebagai salah satu MABINKOM komisariat IAI Ngawi, beliau berpesan karena jika basis islam yang seperti itu di biarkan maka tidak akan lama lagi bangsa ini akan sirna. “Namun misi paling penting bagi individual maupun organisasi warga pergerakan haruslah dapat menjadi seorang penggerak yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.”, pungkasnya sambil tersenyum ramah karena teringat sebuah tulisan di tembok pasar yang sempat menarik perhatiannya.(doc.hlk/jol)


Senin, Maret 12, 2018

"Pemimpin Baru,Gerakan Baru,RTK ke-V PMII IAI NGAWI"











Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAI Ngawi menggelar Rapat Tahunan Komisariat (RTK) ke V yang diselenggarakan di kampus IAI Ngawi,jl.Soekarno Hatta No.99, Ngawi. (Minggu,11/03/2018).<>

Kegiatan RTK ini  dimaksudkan untuk memilih kepengurusan baru yang ada ditubuh Pengurus Komisariat PMII IAII Ngawi masa khidmat 2018-2019.Selain sudah menjadi Program Tahunan, kegiatan RTK ini dimaksudkan untuk proses pembelajaran untuk semua anggota dan kader terkait substansi estafet kepemimpinan menjelang tahun akademik baru IAI Ngawi.

“Substansi dari RTK ini dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran untuk semua anggota  PMII IAI Ngawi terkait sudah aktifnya tahun akademik baru. Jadi pergantian kepemimpinan baru di tubuh komisariat ini harus segera dilakukan. Mengingat, banyak diantara mahasiswa baru yang sudah menyatakan siap untuk menjadi anggota PMII,” .

Kegiatan yang bertemakan “MEMPERTAJAM PERGERAKAN MELALUI JEJAK HISTORIS” ini dihadiri oleh puluhan anggota dan kader dan sejumlah pengurus Komisariat se Kabupaten Ngawi, serta dihadiri oleh sejumlah Alumni PMII Cabang Ngawi, dan dibuka langsung oleh Ketua PMII Cabang Ngawi,Alifin.
“Kader PMII Ngawi harus bisa menjadi kader yang berwawasan luas,progesif,dan ijtihadis,serta mampu menjadi kader yang produktif untuk melahirkan ide-ide kreatif guna kemajuan Indonesia”.ujar sahabat Alifin.
Sebelum kegiatan RTK di laksanakan,PMII komisariat IAI Ngawi juga mengadakan orasi budaya dengan pembicara ketua IKA-PMII sekaligus ketua MABINCAB PMII Ngawi,Bapak Miftakhul Huda.

Dalam forum RTK ini, sahabat Nurman Febri terpilih sebagai Ketua Komisariat PMII IAI Ngawi masa khidmat 2018/2019 yang unggul dari sahabat Nahnu Roziqun dalam perhitungan suara.
Semoga dengan terpilihnya pemimpin yang baru,komisariat IAI Ngawi bisa menjadi komisariat yang bukan hanya unggul dalam kuantitas anggota,akan tetapi juga unggul dalam kualitas anggota, dan semoga komisariat IAI Ngawi kedepannya bisa melahirkan anggota-anggota yang berkualitas,produktif,dan berwawasan luas sehingga mampu menjadi ujung tombak generasi emas INDONESIA dalam menghadapi era milineal ini.(nawa.19/3/18)

Kamis, Maret 01, 2018

IMPLEMENTASI TRILOGI PMII SEBAGAI POLA GERAK KADER MUJAHIDIN



" IMPLEMENTASI TRILOGI PMII SEBAGAI POLA GERAK KADER MUJAHIDIN"







Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia mempunya beberapa pedoman dalam kesehariannya sebagai Organisasi. Diantaranya produk yang sering dirujuk oleh kebanyakan kader PMII adalah Buku Konstitusi (AD/ART dan PO), Buku Kaderisasi, Manhajul Fikr, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), dll. Bahkan di usia PMII yang saat ini sudah 57 tahun lebih, perkembangan produk-produk PMII pun bisa dikatakan sudah menjamah ke tiap-tiap basis Komisariat dan Rayon. Hal itu yang kemudian bisa menjadi representasi kemandirian Kader untuk terus menghasilkan karyanya sebagai konsumsi khalayak banyak.
Namun, ada beberapa hal yang saat ini perlu adanya kesepahaman dan rekontruksi ulang pola pikir serta pola gerak Kader PMII. Yakni, peninjauan kembali atau yang bisa disebut dengan menengok kembali produk terdahulu PMII. Dalam hal ini, kami mengambil Trilogi PMII.
Di kedewasaan PMII saat ini, juga mempengaruhi kedewasaan pemikiran dan gerak Kadernya. Dalam arti, semakin menua PMII maka akan semakin banyak Kader yang tak ingat akan sejarah atau hal-hal terdahulu PMII. Adanya Trilogi PMII terinspirasi dari sifat-sifat PMII (keagamaan, kemahasiswaaan, kebangsaan, kemasyarakatan independen dan professional) dan memiliki tujuan terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dengan isi daripada Trilogi PMII itu sendiri adalah Tri Khidmat, Tri Komitmen, Tri Motto yang dari masing-masing itu masih terbagi atas tiga inti daripada kesemuanya.
Tri Motto yang memiliki klasifikasi Dzikir, Fikir, Amal Sholeh adalah hal pertama yang harus ditancapkan betul-betul pada tiap Kader PMII. Sebagaimana Dzikir memiliki esensi bahwa setiap insan harus dan selalu mengingat akan keberadaan Allah SWT sebagai Sang Khaliq. Fikir adalah sebuah istilah dimana setiap insan dikatakan ada apabila bisa dan mampu untuk berfikir sebagai esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Amal Sholeh merupakan titik dimana kebanyakan Kader mengasumsikannya sebagai sebuah hasil  maksimal dari tiap proses yang dilalui.
Tri Komitmen diklafisikasikan menjadi Kejujuran, Kebenaran, Keadilan yang ketiganya memiliki kesinambungan satu sama lain secara berurutan. Kejujuran disini merupakan suatu nilai mutlak yang harus dijadikan pedoman untuk tiap-tiap Kader dalam berkehidupan, yang kemudian akan tercapainya kepada suatu Kebenaran mutlak untuk menjadi pola pikir yang haru di implementasikan masing-masing Kader. Keadilan adalah suatu wujud akhir dari Tri Komitmen yang kemudian menjadi pemahaman bersama bahwa sebuah Keadilan harus benar-benar ditegakkan oleh tiap-tiap Kader PMII.
Tri Khidmat yang menjadi kesempurnaan Trilogi PMII ini juga diklasifikasikan menjadi Taqwa, Intelektual, Profesional adalah sebuah perwujudan dimana di Tri Khidmat ini tiap Kader PMII harus benar-benar paham siapa, apa, dan bagaimana diri mereka dengan melihat kondisi kekinian yang ada. Taqwa ini merupakan suatu hal yang sudah sangat jelas dipahami oleh tiap-tiap Kader PMII yang mana hal ini telah termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri, untuk kemudian Kader memahami akan nilai kataqwaan pada masing-masing individu. Intelektual adalah sebuah istilah dimana keharusan akan kapasitas dan kompetensi intelektual Kader harus berdaya dan benar-benar difungsikan, baik sesuai disiplin ilmu yang dibidangi atau yang lainnya untuk kemudian dapat menjawab dinamika organisasi dan hal kemasyarakatan yang ada. Profesional juga suatu hal yang harus dipahami oleh tiap Kader PMII, dalam arti profesionalitas lah yang nantinya akan membangun konstruk sosial yang baik untuk lokus sektoral maupun global.
Dalam semua poin Trilogi PMII tersebut sudah sangat jelas bahwa, hal tersebut merupakan sesuatu yang fundamental bagi pola gerak dan pemikiran yang mana pada saat ini telah terindikasi adanya pereduksian pola pikir dan gerak Kader secara substansial maupun esensial.
Untuk maksud tersebut, maka segenap pengurus pergerakan mahasisiwa islam Indonesia Komisariat Institut Agama Islam (IAI) Ngawi Cabang Ngawi, mengadakan pelatihan yang dibungkus dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD).Pelatihan ini  diadakan selama tiga hari dan di laksanakan di kampus IAI Ngawi jl.ir.Soekarno no.99 Ngawi.
Peserta yang mengikuti PKD ini bukan hanya berasal dari lokal ngawi saja,akan tetapi juga ada sebagian pesarta yang berasal dari luar ngawi,seperti tulungagung,trenggalek,solo,pacitan dsb.Jumlah peserta yang mengikuti PKD sekitar 40 orang.(jol/2/3/2018) 

Kamis, Januari 18, 2018

Bedah Nalar Kritis Kader PMII se-Ngawi melalui TOT






Ngrayudan, 12/01/2017
Dalam rangka membangun mental dan intelektual sumber daya manusia khususnya bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) baik di lingkup komisariat maupun cabang, PC PMII Ngawi mengadakan Training Of Trainer (TOT).
Kegiatan yang terlaksana selama 4 hari, Jum’at-Senin (12-15/01/2018) yang berlokasi di Balai Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, sekitar 45 kader PMII dari komisariat             se-Kabupaten Ngawi maupun pengurus cabang ikut turut serta dalam pelatihan  tersebut.
Beberapa pemateri yang sudah ahli dihadirkan dengan maksud untuk memaparkan bagaimana pentingnya menjadi kader yang intelektual dan dapat mentransformasinya pemikirannya ini. Pemateri yang dihadirkan antaranya adalah Syamsul Wathoni (Ketua Komisi Pemilihan Umum Ngawi), Haris Musthofa (mantan Ketua Komisariat PMII Universitas Airlangga ) dan Wahyu Saputra (Dosen Insuri Ponorogo).
Dengan tema” Menumbuhkan Kader Intelektual dan Transformatif”. Seperti telah dipaparkan oleh Ketua Umum PC PMII Ngawi,Sahabat Alifin, tujuannya adalah terciptanya standarisasi pada pengurus cabang maupun komisariat sehingga bisa mendorong proses kaderisasi secara tuntas,  materi selama kegiatan adalah mengenai pengembangan analisa diri, cita diri kader  ulul albab, serta paradigama kritis transformatif  ditambah analisa sosial.
“Selama TOT, peserta diberikan materi yang sangat baik bagi kebutuhan kader-kader dalam masa pengembangan pemikiran, dan  juga gaya penyampaian materi yang berbeda-beda dari setiap pemateri semakin menarik minat peserta untuk menuntaskan semua materi TOT. Untuk jadwal pagi ada outbound juga untuk membangkitkan semangat setelah menghadapi banyak materi yang menguras pikiran,” tambah Alifin kepada redaksi Team Cyber Komisariat IAI Ngawi.
Ia berharap dengan mengikuti TOT ini kader-kader PMII dalam ruang lingkup komisariat se-Kabupaten Ngawi mampu menggerakkan organisasi serta mengawal kaderisasi di masing-masing komisariat dengan totalitas dan loyalitas penuh terhadap PMII khususnya daerah Ngawi. (ardi/pkiaingawi)